Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

Godaan Tengah Malam

“Kalau ada yang membunuhmu, apa kamu bakal gentayangan?” “Mas takut hantu?” Malam merambat di dinding yang dingin dan tipis. Jendela sudah tertutup, tetapi kuping iblis masih mampu menembus dadaku. Dia berdesis… Kuletakkan kesadaranku di perutmu. Jahitan di sana sudah kering-jahitan yang dibikin oleh dokter pria, satu setengah senti dari tempat kencingmu. “Hahaha, aku tidak takut mati tapi aku masih mencari cara agar tidak menyakitkan.” “Kenapa mau mati? Mas Tidak sayang aku?” Kenapa membunuh harus dengan sayatan kebencian? Ali bin Abi Thalib tidak jadi membunuh musuhnya karena takut melakukannya dengan rasa benci. Dongeng seribu satu malam tak kunjung selesai kaubacakan ke boneka menyalamu. Ini sudah hari ke 1312, jadi, sudah berapa kali kau absen bercerita kepadanya atas alasan malas, alasan ingin membuka ponsel yang tak berdering, menutup pintu yang tak pernah dibuka. Aku tidak membenci makhluk Tuhan. Mengapa aku menikahi orang yang namanya kuletakkan dalam daftar hi...

Pertanyaan (Mantan) Calon Sastrawan

 “Apakah aku memang sudah tidak ada harapan menjadi sastrawan?” “Memangnya kamu merasa layak?” “Aku suka membaca sastra.” “Jangan bergurau, Bung. Tidak ada orang jadi sastrawan hanya karena membaca saja. Orang harus menulis, punya karya yang banyak dan diakui publik untuk bisa dianggap sastrawan.” “Kamu tahu Andrea Hirata dengan karya monumentalnya? Mengapa dia tidak dianggap atau kurang dianggap sastrawan?” “Masalahnya karyanya terlalu gampang untuk dikritik.” “Berarti tidak ada jaminan kan, untuk menjadi sastrawan harus punya banyak karya?” “Tetap tidak bisa begitu, Bung.” “Menurutku, dengan banyak duit pun kita bisa menjadi sastrawan.” “Maksudnya?” “Kamu tahu Denny JA? Apakah tulisan-tulisannya lebih banyak diakui publik atau lebih banyak kritik? Bahkan publik yang mengakui pun disinyalir adalah para bayaran.” “Bagaimana kau yakin?” “Waduh, masak tidak tahu. Dia kan bikin proyek bareng-bareng menulis buku puisi esai. Satu puisi ada harganya.” “Oh, mungk...

Nobar “Kinipan”, Wong Grobogan Belajar Merawat Lingkungan

Gambar
  ANTUSIAS: Suasana nonton bareng “Kinipan” di Desa Rejosari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan, Kamis (1/4/2021) malam. GROBOGAN – Teras Baca Rejosari menggelar acara nonton bareng dan diskusi film “Kinipan” di Desa Rejosari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan, Kamis (1/4/2021) malam. Ada sekitar 40 orang termasuk panitia yang hadir dan menonton sampai akhir. Penonton anak-anak bertahan sekitar satu jam dari total durasi film 2,5 jam. Selesai diputar film, panitia mengadakan diskusi. Penonton yang bertahan hingga akhir diminta melingkar. Pemantik diskusi, Taufik, menanyai hadirin satu per satu berdasarkan asal kecamatan. Dari Gabus, Ngaringan, Wirosari, Pulokulon, Toroh, Purwodadi, dan seterusnya. Pemantik diskusi meminta hadirin memaparkan apa yang diketahuinya mengenai lingkungannya. Beberapa hal yang dipaparkan antara lain yakni mengenai hutan di wilayah Grobogan yang semakin gundul, banjir yang jadi langganan beberapa kecamatan, pendirian pabrik, dan sebagainya. Intan, seorang ...

Membedah Suluk Pepali Ki Ageng Selo

Gambar
NGURI-URI BUDAYA: Suyadi alias Pak Raden memaparkan pepali Ki Ageng Selo di Masjid Ki Ageng Selo, Desa Selo, Tawangharjo, Grobogan, Kamis (6/2) malam. GROBOGAN -  Suluk Pepali Ki Ageng Selo diyakini masih relavan diterapkan di kehidupan modern saat ini. Kendati kelahiran karya agung tersebut, mengacu pada kehidupan Ki Ageng Selo, yakni sekitar abad ke-16, namun ajaran pokok dalam pepali tersebut bisa menyesuaikan diri. Hal itulah yang menjadi bahasan Majelis Selapanan Lesbumi NU Grobogan di masjid kompleks makam Ki Ageng Selo, di Desa Selo, Tanggungharjo, Kamis (6/2/2020) malam. Sebagai pembedah, yakni Suyadi alias Pak Raden yang juga pemimpin Padepokan Adem Ayem, dan seorang penulis Grobogan Jumadi dan Kiai Rohib. Pak Raden memaparkan Suluk Pepali Ki Ageng Selo merupakan tuntunan hidup dari lahir sampai mati. Baik itu sebagai rakyat, pemimpin, atau apa pun juga. Pepali tersebut pun menunjukkan kekayaan khazanah budaya nenek moyang masyarakat Jawa, khususnya Grobogan. ”Sete...

Gus Ubaid: Pemerintah Adalah Pembantu Rakyat

Gambar
DOK. BANG-ANDREW: Gus Ubaid dalam diskusi setelah pemutaran Sexy Killers di Omah Asem, Desa Sridadi, Rembang, Kamis, 2 Mei 2019. REMBANG - Ubaidillah Ahmad atau yang akrab disapa Gus Ubaid memberikan perspektifnya persoalan lingkungan yang mendera bangsa ini. Menurut penulis buku Islam Geger Kendeng itu, pemerintah kurang serius menanggapi permasalahan lingkungan yang terjadi selama ini. Dalam diskusi usai nonton bareng film Sexy Killers di Omah Asem Desa Sridadi, Kamis (2/5/2018) malam lalu, Gus Ubaid bahkan menyebut, pemerintah sebenarnya adalah pembantu rakyat. Namun, sebagai pembantu rakyat, justru pemerintah sering membuat susah rakyat terkait permasalahan lingkungan. "Ini kok malah menyinggung pemerintah. Tidak apa-apa ya. Niat saya baik. Pemerintah kan pembantu rakyat, kita ini rajanya," terang pria yang kini tinggal di Bogor itu Gus Ubaid lalu mengkritisi kebijakan pemerintah dalam penyelesaian sengketa lahan. "Sebenarnya, rata-rata pemerintah in...

“Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan Ternyata Memang Oke

Sekitar setahun lalu, seorang teman saya geger di sosial media. Sebabnya, mengapa Indonesia tak terlalu menyorot keberhasilan sastrawan Eka Kurniawan yang membanggakan Indonesia melalui karyanya. Ketika itu, saya memang sudah penasaran. Tapi belum sampai mencari buku yang katanya sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa itu. Nah, baru hari ini, 17 Agustus 2018 saya iseng-iseng googling mencari novel yang katanya masterpiece itu. Saya download (jangan ditiru, haha) dan baca paragraph pertama. Dan ternyata.. asemm tenan, memang jos. Benar-benar keren. Saya adalah pengagum karya-karya Ayu Utami, dan setelah tahu karya Eka Kurniawan, mungkin saya juga akan menambahkan namanya di daftar sastrawan keren idola. Berikut paragraph pertama di novel Cinta Itu Luka yang terbit tahun 2002 itu. “Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Seorang bocah gembala dibuat terbangun dari tibur siang di bawah pohon kamboja, ...

Berada Di Balikmu dan Mu yang Dibalik

Selamat Hari Puisi! Pertama-tama, N adalah seorang ibu yg menyajikan sarapan dengan ketulusan-ketulusan. Hari berganti dan N menjelma R setelah rapalan mantra-mantra. R melupakan gadis desa yg jatuh cinta dengan puisi-puisi yg diciptakannya di hari-hari ketika awan berarak sempurna. Sang pemuda mengubah R menjadi D lalu membiarkannya mencintai bunga-bunga. Malam adalah sahabat D yg sempurna setelah Widji, Sapardi, Jokpin, W.S., Avianti, dan Afrizal. Dini hari adalah tentang Afrizal-Afrizal yg menembus dinding-dinding. Avianti menghentikan gerak-gerikmu, W.S. menjelma burung, Jokpin membawakanmu serpih-serpih angin, Sapardi mengenalkanmu seorang gadis berwarna merah, lalu Widji mengirimimu surat dari surga. Aku menjadi Chairil dan Kahlil, dan mereka terus bercerita tentang sapi perah. Sapi perah bercerita tentang sapi perah dan sapi perah sedih atas kesapiperahannya. Sapi perah mengundang penggembala dan sapi perah semakin sapi perah dari yg sudah-sudah. Kita memberontak m...

Menjadi Mata

aku melihatmu bahkan ketika tak ada cahaya yang masuk ke dalam perutku aku tak melihatmu ketika cahaya itu menerobos melewati hidung, telinga, dan otak di sini aku tak melihatmu menjadi kupu-kupu, burung gelatik, atau apa saja aku baru saja melihat ada seorang lelaki yang menyendiri dalam kemaluannya ia kemudian gelisah, gelisah, dan resah tapi kemudian aku tak melihat lagi, karena perih mimpi menjadi kabut-kabut yang menutupi 2014

Seorang Bocah yang Datang di Pagi Hari

Ada bocah pada suatu pagi, datang, begini, katanya, sebentar lagi akan kiamat. Sebentar lagi dunia akan berakhir. Sudah tak ada lagi pengampunan. Tak ada lagi pintu maaf bagi siapapun hamba. Tuhan sudah menutup pintu. Ibadah sudah tak mampu lagi mengelap dosa-dosa. Karena bingung, bapak-bapak yang mendengar ini langsung melapor kepada Pak RT. Pak RT melapor pada kiyai setempat. Kiyai bingung. Lalu menginterogasi bocah yang mengaku dari bulan ini. “Kamu bener datang dari bulan?”  “Saya hanya tahu kalau kiamat akan datang sebentar lagi.” “Dari mana kamu tahu?” “Dari bulan.” “Apa buktinya?” “Banyak.” “Coba sebutkan.” “Bapak lebih tahu dari saya.” Pak Kyai mulai kesal. Berhenti bertanya. Ia menyeruput kopi untuk menenangkan pikiran. Berpikir-pikir lagi. Bagaimana mungkin ada bocah mengaku-ngaku dari bulan. Mengatakan kalau kiamat bakal terjadi sebentar lagi. Mengakui sudah banyak tanda-tanda kiamat. Dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat ke-21 dikatakan bahwa tanda...

Ibu Tua

Ibu Tua meringkuk di kamarnya. Sendirian. Usai Menik menonton televisi di ruang tengah, tak ada lagi suara yang mencairkan rumah itu. Dan Ibu Tua itu, tentu tahu Menik esok harus pergi ke sekolah pagi-pagi. Tak mungkin memintanya menemani dirinya hingga tertidur. Dan begitulah, Ibu Tua itu lebih sering merasa sendiri setelah ditinggal suami yang dipanggil Illahi dan anak-anaknya yang satu-persatu bergiliran meninggalkan rumah itu. Menik, putri bungsu dari lima bersaudara lebih sering berada di luaran. Pagi, bangun pukul lima, membantunya menyapu dan menyiapkan sarapan, lalu mandi dan lantas meninggalkannya sendirian di rumah. Sepi. Sepi. Selalu hanya sepi yang setia menemani Ibu Tua. Kini, Ibu Tua sedang melamun di jendela. Dulu, ia ingat sekali, di situ ia pernah mendongeng untuk anak-anaknya. Betapa Ibu Tua dengan muka cerah sumringah menjadi pendongeng setia di rumah hanya agar anak-anaknya merasa betah tinggal bersamanya. Ibu Tua bahagia sekali melihat anak-anaknya antusia...

“Kata” Papa

Pada suatu kalimat terpenggallah kata yang mengganggumu di malam hari. Entah membuat kau terpesona atau bukan, yang jelas kau mengatakannya: aku tak bisa tidur gara-gara kata itu. Di depannya, ada bayangan. Bayangan tentang citanya, cintanya dan yang terakhir adalah kata nya. Kata yang mengganggunya sejak ia memelototi buku yang tergeletak di meja tamu. Seumpama dia sedang membayangkan bertamasya di bali selama seminggu , maka satu minggu itu akan dipotong tiga hari hanya untuk memikirkan kata itu. Dalam benaknya, ada satu. Ia yakin. Ada sesuatu yang satu.  Dalam hatinya, atau entah di mana. Satu juga adalah kata itu. Menyelinap di mimpi malamnya, bepergian waktu paginya dan ikut pulang waktu sorenya. Tak ada lagi yang bisa diucapkannya bahkan dilakukannya. Ia hanya terdiam. Atau lebih dari itu, ia makhluk terpuruk. Begitu hatinya bergumam. Satu pagi yang sumpek, menambah pula beban sumpek yang harus ia derita sekarang. Pikirannya hilang. Lepas. Dirinya redup. Seredup-redu...

Siti Istikomah

Begitulah, Siti Istikomah sesuai dengan namanya, lurus, lurus dan lurus. Konsisten dengan apa yang dijalani. Dengan keadaan sesulit apapun. Hatinya tetap konsisten mengharap ridho-Nya. Walau cobaan berkali-kali menghampiri, ia dapat menaklukannya juga. Karena ia memang selalu yakin, bahwa barang siapa yang menegakkan agama Allah, hidupnya akan bahagia. Dan sampai sekarang ia hidup, ia selalu membuktikan kalimat itu, dan tak pernah meleset sedikitpun. Seperti ketika ibunya sakit sesakit-sakitnya, hingga sepertinya ibunya tak pernah merasakan sakit yang sepeti itu. Siti Istikomah dengan setia menemani ibunya tanpa sedikitpun ada rasa keluhan keluar dari mulutnya. Bahkan dari hatinya, ia senantiasa tulus mengaharap ridho dari Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha Kuasa, Yang Maha Adil bagi makhuk-makhluk-Nya. Siti Istikomah menyuapi ibunya, memapah ke kamar mandi, mewudhuni, dan ia senantiasa sabar serta selalu mengingat bahwa barang siapa yang sabar, Allah selalu bersamanya. Dari semua...