Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Nganu

Mengapa Siti Berjalan Mundur?

Tidak ada duka yang sejati. Tidak ada air mata yang tumpah untuk kedukaan. Duka hanyalah cara kita memandang. Dan lihatlah, Siti setia berjalan mundur, berjalan ke belakang. Siti lahir pada minggu kesembilan hujan tak turun di daerah itu. Dia mengenali dirinya sendiri ketika berusia 19 tahun. Tapi, mengapa dia tidak berhenti berjalan mundur? tulisan ini diselesaikan pada bulan Desember 2019, tapi karena bulan Maret tak ada postingan, di-posting-lah tulisan ini di bulan itu. haha

Desember yang Dingin

Kita adalah bulan november yang menunggu: Seorang pemuda di ujung kabupaten ingin membaca lebih banyak buku, sedangkan orangtuanya melarang membeli buku. Seorang pria ingin bunuh diri dengan pikirannya yang rumit. Seorang lelaki yang sudah ditanyai semut merah, kapan mengakhiri solo karier? Desember yang basah melindungi seorang pria miskin, janda miskin, dan penggembala kambing yang tersesat. Bulan ketika jiwa-jiwa sedih terus gundah gulana dan menyisakan sesal demi sesal. Anak-anak buta membaca kitab Tuhan di sudut kelas. Dia ingin terus membaca teks. Tapi sesungguhnya dia tahu, ada yang lebih bisa dibaca daripada teks. Mata anak-anak dari langit mengalirkan teks, ilham-ilham, karomah, maunah, dan kebanyakan manusia buta. Seseorang diwajibkan tahu banyak hal dan dia dilarang mengumumkannya. Seseorang harus menjadi cecunguk dan dia tak bisa menghindar. Seseorang diwajibkan menjadi bajingan sekaligus agamis. Seseorang wajib membuat mulutnya berbusa dan membungkuk-bungkuk d...

Halaman 29

kita sedang bergerak ke belakang, seorang pemuda menghentikan roda waktu, membuka kitab di lauhul mahfudz, mencari kisahnya yang sedih di halaman 29.  martabat seorang gadis berjatuhan di depan televisi, sinyal-sinyal munafik menyambar sanubari, meretakkan yang kokoh, menghancurkan yang perkasa. melihat aku di persimpangan galaumu, memaksa aku ke dalam aku, lebih aku sejak hari kematian nenekmu, melewati demak, jepara, dan sebuah kota penuh asap. sesosok cahaya datang menemuiku, menyilakanku membuka buku, memetakan jalan hidup yang berliku setelah minum kopi dan menyanyikan lagu sendu..

Rembang Empat Hari

kegagalan tanpa henti ini tak luput dari kegagalan nganu