Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sejarah

Legenda Bledug Kuwu

Masyarakat Grobogan Purwodadi sudah tidak asing lagi akan adanya “bledhug kuwu“ tersebut, sebab obyek Bledhug Kuwu telah menjadi obyek wisata alam yang menarik di daerah tersebut. Keajaiban alam berupa “plembungan endhut“ yang meletus ( bledhug ) dengan suara letusan yang cukup keras ini memang benar - benar ajaib. Bledhug itu sepanjang zaman tidak putus - putusnya terjadi dilokasi tanah seluas kurang lebih 40 Ha. Bledhug itu ada yang sangat besar, bahkan ada yang sebesar rumah penduduk. Menurut cerita tutur, bledhug itu terjadi karena ulah Jaka Linglung, Putra Aji Saka atau Prabu Jaka dari kerajaan Medang Kamulan. Pada satu ketika Jaka Linglung yang berwujud ular naga itu disuruh Aji Saka atau Prabu Jaka membunuh Dewata Cengkar yang telah berubah rupa menjadi seekor buaya putih yang sangat besar, sebagai syarat untuk diakui sebagai anaknya. Jaka Linglung berangkat ke laut selatan tempat Dewata Cengkar bertahta. Dia tidak sabar melalui darat, maka dia melalui dalam tanah, jalan ...

Mbah Moen dan Perjalanan Sang Kiai Kharismatik

Mbah Maimoen & Kisah Perjalanan-nya -------------------------------------------- KH Maimoen Zubair adalah putra pertama dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Lahir pada hari Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 H bertepatan tanggal 28 Oktober 1928 di Desa Karang Mangu Kecamatan Sarang, Jawa Tengah. Nyai Mahmudah, putri dari Kiai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatik yang teguh memegang pendirian. Sedangkan Kiai Zubair merupakan murid kinasih Syeikh Sa’id Al-Yamani serta Syeikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Secara genealogi keilmuan, Mbah Zubair merupakan ulama yang cukup disegani. Kematangan ilmu KH Maimoen Zubair tidak ada satupun yang meragukan. Sebab, sejak balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan bermacam Ilmu Syara’ lainnya. Kecerdasan dan daya ingat Mbah Moen sangat luar biasa yang membawanya menuju pribadi ya...

Babad Mangir

Danang Sutawijaya, dikenal sebagai Panembahan Senapati, maupun Ki Ageng Mangir Wanabaya memiliki asal-usul yang sama; keduanya keturunan Raja Majapahit, dari Prabu Brawijaya Pamungkas. Senapati dari garis Ki Ageng Pamanahan (atau Adiwijaya?) , Ki Ageng Ngenis (Laweyan), Ki Ageng Sela, Ki Getas Pandawa sampai Ki Ageng Tarub alias Bondan Kajawan (Grobogan); putra Brawijaya Pamungkas. Sedangkan KAMW berasal dari garis keturunan Ki Ageng Mangir II, Ki Ageng Mangir I (KAW) sampai kepada Lembu Amisani; putra Brawijaya Pamungkas. KAMW adalah menantu sekaligus musuh besar Senapati; dan KAP merupakan besan sekaligus musuh besar KDB berikut para petingginya; karena putranya, Mas Karebet, adalah menantu Sultan Trenggana dan generasi terakhir dinasti politik Demak Bintara di Kasultanan Pajang. Sultan Trenggana maupun KAP juga memiliki asal-usul yang sama, dari Brawijaya Pamungkas; KAP dari garis Prabu Andayaningrat, yang menikahi Ratna Pambayun, putri sulung Brawijaya Pamungkas dari perkawinannya...

Negosiasi Pengembangan Makam RA Kartini di Mantingan Masih Alot

Gambar
DOK. KHOLID HAZMI BERENCANA DIKEMBANGKAN: Seorang peziarah menabur bunga di makam RA Kartini, belum lama ini. REMBANG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang mewacanakan akan menata lokasi sekitar makam RA Kartini yang berada di Desa Mantingan, Kecamatan Bulu. Namun, rencana tersebut memang tak luput dari kendala. Salah satunya adalah belum adanya persetujuan mengenai nilai kerja sama dengan keluarga ahli waris RA Kartini. Bupati Rembang Abdul Hafidz menyebutkan, hak legal secara hukum masih belum didapatkan pemkab Rembang untuk melakukan pengembangan. Hal itu karena makam RA Kartini merupakan milik dan wewenang keluarga RA Kartini yang merupakan ahli waris. ”Kami ingin meningkatkan infrastrukturnya. Kami sudah sempat bernegosiasi dengan keluarga RA Kartini, tapi memang belum ada kata sepakat,” paparnya. Bupati menambahkan, area seluas 5 hektar kawasan makam RA Kartini sampai saat ini memang merupakan wewenang ahli waris. Negosiasipun terus dilakukan agar rencana penin...

Berita Kuno Kerajaan Jipang

Berita-berita kuno tentang Kerajaan Jipang Nama Jipang diberikan kepada daerah antara Gunung Kendeng dan pegunungan pesisir utara, yaitu daerah hulu Sungai Lusi atau Serang, yang sekarang bermuara di Laut Jawa di sebelah selatan Jepara. Mungkin dahulu kala sungai ini bermuara di sebuah selat yang dangkal, tempat Demak, Pati, dan Juwana, yang memisahkan Pulau Muria dan daratan Jawa. Daerah ini sekarang terletak di kabupaten-kabupaten Blora dan Bojonegoro, yang termasuk Karesidenan Rembang. Jipang konon nama sebagian dari daerah itu. Daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan ini berperan penting dalam legenda sejarah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam riwayat-riwayat diberitakan bahwa Blora ialah tempat tinggal seorang pandai dari zaman bahari, Arung Bondan namanya. Rupanya, ia seorang ahli bangunan, nenek moyang patih-patih dan pejabat-pejabat raja-raja di zaman kuno. Menurut beberapa pembawa cerita, Mendang Kamulan, sebuah negeri asal dalam dunia dongeng, terletak di daerah Blora ini. Bojo...

Sepenggal Kisah Syeikh Jumadil Kubro

Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa. Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain. Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus be...