Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Presiden Penyair Sutardji, Penyair Celurit D. Zamawi Imron, dan Gus Mus

Gambar
Penampilan Gus Mus alias Ahmad Musthofa Bisri, penyair yang juga pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, dalam Pertemuan Penyair Nusantara XI di depan Menara Kudus, 29 Juni 2019 malam. Sebanyak 130 penyair dari berbagai negara di asia tenggara berkumpul malam itu dan membacakan puisinya.  Penampilan Penyair Celurit Emas D. Zamawi Imron di Menara Kudus, 29 Juni 2019 DOK. BANG ANDREW FOUNDATION Penampilan Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri di Menara Kudus, 29 Juni 2019

Hatiku Kafir?

Gambar
Mbarik Ahmad | 17 Des 18 Memahami tiap peristiwa sebagai kepingan demi kepingan yang harus disusun menjadi sebuah cerita yang memiliki tujuan Lillah. Objek yang Allah hadirkan d itiap kepingan adalah alat untuk membentuk kepingan-kepingan. Namun Allah suka guyonan Objek yang disifati sebagai alat, oleh Allah dikelambeni agar tampak seperti tujuan. Kegamangan demi kegamangan mulai muncul, akal dan hati mulai berbenturan dengan argumennya masing-masing. Akal dengan hubbun-nya hati dengan wuddan-nya Jika akal yang menang maka tujuan yang sejati akan ter-kafir-kan oleh hubbun Namun ketika hati yang menang maka objek yang ter-klambi-kan akan dibuka oleh Allah dengan wuddan-nya dan tampaklah bahwa sebenarnya itu bukan tujuan melainkan alat. #kepingan #kaffaro

MENDIAMKAN TUHAN

Gambar
by Ahmad Mbarik | 15 Desember 18 Sekilas aku tampak cemas. Seperti khawatir akan hari esok yang masih tak jelas. Selalu menerka, mengandai-andai supaya terasa pas. Itu semua jadi kesibukanku di kala udara hilir mudik melewati lubang hidung. Mereka pikir aku tampak cemas. Mereka pikir aku kurang puas. Dengan kuasa Tuhanku Yang Maha Welas. Mereka pikir aku tak berpikir keras. Tuhan... Berikan aku ijin untuk minta ampunan-Mu. Bukan aku tak yakin dengan ke-Maha-an-Mu Aku cuma cemas tak bisa membaca pesanMu. Aku cuma khawatir tak memahami perkataan-Mu. Aku cuma takut melewatkan jawaban-Mu atas doa-doaku.   Aku cuma takut mendiamkan perkataan-Mu. Aku yakin kau mendengar doaku tapi aku ragu dengan pendengaranku Tuhan... Aku yakin kau menjawab tapi aku ragu dapat mendengarnya Memang tak semua yang kupinta langsung Kau kabulkan Tapi yang selalu Kau kabulkan tak selalu aku pinta Lalu... Masih pantaskah aku meminta? Tuhan....

MENGHADIRKAN TUHAN DI DALAM WC

Gambar
by Ahmad Mbarik | 11 Des 2016 Di saat dzikir aku tak menghadirkan Tuhan Di saat shalat aku tak menghadirkan Tuhan Di saat shalawatan aku tak menghadirkan Tuhan Di saat doa aku tak menghadirkan Tuhan Di saat dziba'an aku tak menghadirkan Tuhan Di saat Maulud Nabi aku tak menghadirkan tuhan Apakah Tuhan tidak hadir? Tuhan jelas hadir tapi aku tak menghadirkan-Nya Tetapi... Di dalam wc aku menghadirkan Tuhan Tuhan menghadirkan diri-Nya dalam keikhlasan makhluk-Nya Di tempat yang kalian anggap kotor, menjijikan, jorok, bau dan kumuh Tuhan hadir dengan senyuman. 

Biarkan Tuhan Membiarkan

Gambar
by Ahmad Mbarik | 12 Des 2016 Mulai ada yang menakhodai pikiranku untuk kembali ke dermaga mengambil sesuatu yang seharusnya dibawa dalam pelayaran... Maaf, Tuhan... Ini bukanlah tindakan makar terhadap kuasamu... Aku menyebutnya memperjuangkan apa yang kau perintahkan Tuhan... Engkau tak mungkin mempermalukan makhlukmu di hadapan makhluk yang lain Oleh karena itu "mbok yao dikabulkan" Namun... Jika memang awalnya harus seperti ini saya ikhlas Tapi akhirnya "karo arek kae lho, Gusti" Dan akhirnya dengan seketika Tuhan langsung menjawab "hak mu adalah meminta dan cukup sampai batas meminta. Bahkan hakmu itu adalah pemberian Ku dan sejatinya kau tak punya hak apa pun terhadap hidupmu" Aku sadar gusti... Inilah dialektika kemesraan-Mu kepada makhluk-Nya. Kau larang aku untuk memiliki tapi kau biarkan aku menikmati. Seakan Kau berkata, "Makanlah, habiskan semua gula ini sesukamu, tapi saat kau tau bahaya dari gula maka kau akan tau kenap...

Berada Di Balikmu dan Mu yang Dibalik

Selamat Hari Puisi! Pertama-tama, N adalah seorang ibu yg menyajikan sarapan dengan ketulusan-ketulusan. Hari berganti dan N menjelma R setelah rapalan mantra-mantra. R melupakan gadis desa yg jatuh cinta dengan puisi-puisi yg diciptakannya di hari-hari ketika awan berarak sempurna. Sang pemuda mengubah R menjadi D lalu membiarkannya mencintai bunga-bunga. Malam adalah sahabat D yg sempurna setelah Widji, Sapardi, Jokpin, W.S., Avianti, dan Afrizal. Dini hari adalah tentang Afrizal-Afrizal yg menembus dinding-dinding. Avianti menghentikan gerak-gerikmu, W.S. menjelma burung, Jokpin membawakanmu serpih-serpih angin, Sapardi mengenalkanmu seorang gadis berwarna merah, lalu Widji mengirimimu surat dari surga. Aku menjadi Chairil dan Kahlil, dan mereka terus bercerita tentang sapi perah. Sapi perah bercerita tentang sapi perah dan sapi perah sedih atas kesapiperahannya. Sapi perah mengundang penggembala dan sapi perah semakin sapi perah dari yg sudah-sudah. Kita memberontak m...

Mengapa Siti Berjalan Mundur?

Tidak ada duka yang sejati. Tidak ada air mata yang tumpah untuk kedukaan. Duka hanyalah cara kita memandang. Dan lihatlah, Siti setia berjalan mundur, berjalan ke belakang. Siti lahir pada minggu kesembilan hujan tak turun di daerah itu. Dia mengenali dirinya sendiri ketika berusia 19 tahun. Tapi, mengapa dia tidak berhenti berjalan mundur? tulisan ini diselesaikan pada bulan Desember 2019, tapi karena bulan Maret tak ada postingan, di-posting-lah tulisan ini di bulan itu. haha

Desember yang Dingin

Kita adalah bulan november yang menunggu: Seorang pemuda di ujung kabupaten ingin membaca lebih banyak buku, sedangkan orangtuanya melarang membeli buku. Seorang pria ingin bunuh diri dengan pikirannya yang rumit. Seorang lelaki yang sudah ditanyai semut merah, kapan mengakhiri solo karier? Desember yang basah melindungi seorang pria miskin, janda miskin, dan penggembala kambing yang tersesat. Bulan ketika jiwa-jiwa sedih terus gundah gulana dan menyisakan sesal demi sesal. Anak-anak buta membaca kitab Tuhan di sudut kelas. Dia ingin terus membaca teks. Tapi sesungguhnya dia tahu, ada yang lebih bisa dibaca daripada teks. Mata anak-anak dari langit mengalirkan teks, ilham-ilham, karomah, maunah, dan kebanyakan manusia buta. Seseorang diwajibkan tahu banyak hal dan dia dilarang mengumumkannya. Seseorang harus menjadi cecunguk dan dia tak bisa menghindar. Seseorang diwajibkan menjadi bajingan sekaligus agamis. Seseorang wajib membuat mulutnya berbusa dan membungkuk-bungkuk d...

Halaman 29

kita sedang bergerak ke belakang, seorang pemuda menghentikan roda waktu, membuka kitab di lauhul mahfudz, mencari kisahnya yang sedih di halaman 29.  martabat seorang gadis berjatuhan di depan televisi, sinyal-sinyal munafik menyambar sanubari, meretakkan yang kokoh, menghancurkan yang perkasa. melihat aku di persimpangan galaumu, memaksa aku ke dalam aku, lebih aku sejak hari kematian nenekmu, melewati demak, jepara, dan sebuah kota penuh asap. sesosok cahaya datang menemuiku, menyilakanku membuka buku, memetakan jalan hidup yang berliku setelah minum kopi dan menyanyikan lagu sendu..

Suatu Hari Minggu yang Sedih

kita adalah sesosok kesedihan yang tertawa sepanjang waktu.. aku terlena di antara kita, sedangkan Dia selalu menguasai kita hari minggu adalah hari yang buruk untuk kesedihan.. dia datang tak sopan dan meminta kopi lalu sarapan dia bahkan duduk sembari menonton tivi dan ingin camilan enak.. dia lalu memarahiku, katanya aku tak bisa sopan pada tamu...

malam nganu

dia melihat malam yg terpejam di atas tumpukan jerami, kau mendengar tuts sepuluh ribu desibel, dan keangkuhan merenggut jiwamu... aku berdiri di atas jerami yg terbakar malam-malam ketika bulan berpindah ke matamu.. kau bercerita bahwa puisi itu asyik, tapi asyik menangis tersedu2 di atas tumpukan jerami yg terbakar malam-malam...

Geng Gondes

dear, geng gondes... langit menurunkan embun di simpang lima, dan di sana kita bertemu dalam keping-keping yang berharga kita harus berterima kasih pada gedung yang menjulang itu, di sanalah cinta tumbuh dalam ikatan tali kasih sayang mesra... pada suatu siang yang panas kalian mengantarku dalam suatu musibah kunci.. pada suatu malam hujan-hujan, rintik-rintiknya menyaksikan kita tertawa dalam sapuan angin dingin... suatu kali aku tertidur dan kalian membenarkan selimutku.. tetapi aku harus meminta maaf pada langit sesuatu harus terjadi dan aku kini pergi dari kota kita kalian tetap di sana meraut keping-keping mimpi.. aku harus pergi karena aku punya mimpi yang lain.. ah, tapi geng gondes telah terajut dan biarkan langit yang memperjalankannya.. geng gondes harus tetap ada sampai langit mencegat jalannya... juli, 2016

Lorong

sedang melewati lorong yg berbeda. apakah lorong itu ada dalam garis lurus, apakah bersinggungan, apakah itu lorong yg sama sekali berjauhan, dan cinta tetap tumbuh. kau tak paham, ia telah melihat sesuatu yg bersinar tanpa terjemah, dan setinggi sekokoh apapun kau membikin pagar, ia akan melompati, meruntuhkannya. mungkin ia belum mampu melempar buah ceri, apel, atau melon di musim panas, tetapi ia sesungguhnya sedang berkebun. menanam segala cipratan2. dan ia takkan berhenti walau ia tak tahu apakah akan merasakan panen atau sama sekali patah total. kebun itu tak pernah benar2 panen, takkan pernah panen, hingga pagar tinggi kokoh itu runtuh.. dan kau akan mengenangnya dengan senyum manis dan sesuatu yg mengalir di pipimu..

Lagu Sedih

sebuah lagu mengalun mengelus2 dinding merah mudanya.. ia terbaring, bosan lalu duduk, dan ia berdiri sebagai isyarat ia masih makhluk dunia... badannya tak lagi panas, ia hanya sedikit pening dan ada beberapa luka hati di sana sini.. makhluk2 cair meluncur dr hidungnya.. atom2 kenangan membikin tenggorokannya geli.. ia terbatuk2 oleh kisah sendunya.. makhluk2 cair semakin deras meluncur.. paru2nya kembang-kempis dan yang ia lakukan kemudian adalah: sentrap-sentrup sambil menyanyikan lagu sedih...

Dendra dan Nina

Dendra dan Nina telah membaca puisi-puisi Afrizal Malna dan kini kepala mereka berdarah-darah karena dibenturkan ke tembok berkali-kali dalam 9,8 skala richter: Puisi telah membunuh pedagang asongan, para pelacur, dan masinis yang sedang berlayar di rel kereta. Antara kejam dan sedih, puisi membangun jembatan untuk para dokter dan pengacara yang sedang menari di kamar mandi dalam rumah mister kapitalisme. Puisi telah membunuh kepala dinas kesedihan di sebuah kota bunuh diri. Puisi membunuh anak band yang tak punya ayah, membunuh anak kos dan ibu kos, menguliti supir angkot dan supir bis yang terlibat percekcokan. Puisi telah membius driver gojek dan penumpangnya dalam sebuah jamuan makan malam di rumah presiden kesepian. Puisi telah berguru di puncak gunung semeru untuk membunuh kapitalisme, tapi puisi tidak kuat menahan tiga hari, dan ia pulang dengan kegagalan menenteng tas berisi kapitalisme. Puisi telah membunuh dengan kejam para jurnalis dalam ketiak kapitalisme. Kapitalis...

Menjadi Mata

aku melihatmu bahkan ketika tak ada cahaya yang masuk ke dalam perutku aku tak melihatmu ketika cahaya itu menerobos melewati hidung, telinga, dan otak di sini aku tak melihatmu menjadi kupu-kupu, burung gelatik, atau apa saja aku baru saja melihat ada seorang lelaki yang menyendiri dalam kemaluannya ia kemudian gelisah, gelisah, dan resah tapi kemudian aku tak melihat lagi, karena perih mimpi menjadi kabut-kabut yang menutupi 2014