Postingan

Mas Habib dan Maiyah

Gambar
Pada sekitar 2014, saya sebagai komting lupa mengirim SMS (belum marak WA) padanya bahwa sebuah mata kuliah diganti hari.  Blio tentu tidak tahu, tidak berangkat dan membuat jatah absennya berkurang. Blio pun protes tipis-tipis. Sebagai bentuk permintaan maaf, saya main ke rumahnya di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang beberapa waktu setelahnya. Saya lupa bagaimana detailnya tapi pada akhirnya kami semakin akrab karena Maiyah. Pada Februari 2016, kami motoran dari Semarang ke Alun-Alun Purwodadi menerjang hujan demi Maiyahan.  Waktu itu temanya Meretas Budaya Korupsi. Kami tidur di masjid kompleks Alun2 itu, Baitul Makmur. Sialnya, sandal saya hilang dan pada paginya harus pulang nyeker. Selain di Purwodadi itu, kami juga pernah ngluruk Maiyahan ke Magelang dan Solo. Entah ke mana lagi. Saya lulus, namun kabar kurang enaknya blio gak bersedia menyelesaikan studinya di detik-detik akhir semester.  Kami bertemu lagi pada 2021 saat saya nikah. Blio datang bersama istrinya d...

Mengapa Kita Cemas?

  Cemas, orang-orang selalu tampak cemas karena masa depan sepersekian detik setelah kita bernapas hanya ada dalam catatan langit. Orang-orang cemas, takut ketidakpastian masa depan, lalu memilih berlindung di bawah payung agama yang teduh. Sebagian orang mengatakan agama adalah keniscayaan. Lalu, ada berapa banyak orang yang justru lebih bahagia tanpa agama? Dendra berpikiran, agama hanya datang dari langit. Manusia tidak dapat menciptakan agama, karena manusia takkan mampu menyibak cahaya yang amat terang. Manusia tak bisa menyalalan lilin tanpa korek api. Manusia mesti mendapat anugrah untuk dipilih menjadi pemilik korek api yang jatuh dari langit. Dendra tentu tak berani menyalahkan orang-orang. Dia selalu mendorong orang-orang untuk berpikir: di kelas-kelasnya, status sosmednya, dan setiap bertemu dengan manusia apa pun bentuk kepalanya. Kecemasan mendorong orang-orang untuk berbuat sesuatu. Mereka sebenarnya tak benar-benar tahu bahwa apa yang mereka lakukan hanya ...

Banjir di Simpanglima Grobogan Terparah Sepanjang 35 Tahun

Gambar
Banjir besar di Simpanglima Purwodadi, Grobogan, Februari 2026. Grobogan - Banjir yang melanda kawasan jantung kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah kali ini diyakini warga merupakan yang terbesar dalam beberapa puluh tahun terakhir. Hal itu diungkapkan Yono, warga Kelurahan Kalongan, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. Pria berusia 56 tahun itu menyebut belum pernah terjadi banjir separah Senin (16/2/2026) hari ini. "Saya tahu pembuatan tugu Simpanglima, sekitar 35 tahun lalu. Sejak saat itu sampai sekarang, baru ini banjir terparah," ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek itu. Menurut dia, setidaknya sepanjang 35 tahun terakhir belum pernah terjadi banjir di Simpanglima sampai berjam-jam. Biasanya, genangan banjir hanya lewat saja.  "Biasanya hanya lewat saja. Ini dari jam 6 pagi sampai sekarang (sekitar pukul 12.00 WIB), belum surut," lanjutnya. Suhadi, warga Purwodadi lainnya menyebutkan hal yang sama. Pria berusia lebih 70 tahun itu mengata...

Awasi Pleno PDPB Triwulan IV, Bawaslu Grobogan Soroti Pemilih TMS, Minta Koreksi Data

Gambar
Purwodadi - Bawaslu Kabupaten Grobogan mencermati data pemutakhiran data pemilih. Salah satu yang jadi sorotan adalah validitas data pemilih tidak memenuhi syarat (TMS).  Bawaslu Kabupaten Grobogan menyoroti hal tersebut dalam pengawasan Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan IV KPU Kabupaten Grobogan di Hotel Front One Purwodadi, Senin (8/12/2025).  Dalam rapat pleno tersebut, KPU Kabupaten Grobogan memaparkan berdasarkan rekapitulasi perubahan pemilih PDPB Triwulan IV Tahun 2025, pemilih baru tercatat sebanyak 9.889 pemilih dan pemilih tidak memenuhi syarat  tercatat sebanyak 4.203 pemilih yang tersebar di 19 Kecamatan se-Kabupaten Grobogan.  Akumulasi perubahan tersebut, maka pemilih total PDPB Triwulan IV, yakni jumlah pemilih laki-laki sebanyak 570.115, pemilih perempuan 574.336, sehingga total pemilih mencapai 1.144.451. Jumlah tersebut tersebar dalam 2.142 TPS, 280 desa dan kelurahan, dan 19 kecamatan.  Ja...

Pemkab Beralasan Tak Bangun Jalan 2025

Grobogan - Pemkab Grobogan melalui Sekda Anang Armunanto memberikan penjelasan terkait kritik masyarakat yang menyebut jalan rusak tak segera dibangun dan lebih memilih membangun gedung perkantoran. Sekda memaparkan, pembangunan gedung besar, sebagai contoh ruang Riptaloka Setda Grobogan dilakukan karena banyak pertimbangan. Dijelaskan, selama ini Pemkab belum memiliki command center. "Di Jawa Tengah banyak yang sudah punya command center, sedangkan kita belum punya. Padahal itu penting untuk kepala daerah saat mengambil keputusan penting," ujar dia. Gedung lama, kata dia tidak mungkin hanya dilakukan perbaikan. Sebab, di gedung command center juga terdapat ruang pertemuan untuk agenda-agenda penting. "Awalnya itu rencananya direnovasi, ternyata kalau hanya direnovasi itu bagian dasarnya tidak kuat. Akhirnya mau tidak mau dibangun dari awal, jadi gedung lama dibongkar," lanjutnya. Ia pun berjanji gedung baru yang tersambung di gedung depan dan belakang ter...

PPPK Paruh Waktu

Grobogan – Bupati Grobogan, Jawa Tengah, Setyo Hadi baru saja menyerahkan SK pengangkatan bagi 789 PPPK di Gedung Dewi Sri Purwodadi, Selasa (9/9/2025). Selanjutnya, Pemkab Grobogan juga bakal mengangkat sekitar tiga ribu pegawai dalam skema PPPK Paruh Waktu. Sekda Grobogan Anang  Armunanto menyatakan sebenarnya tidak ada PPPK Paruh Waktu. ”Masih ada PR lagi, sesuai dengan ketentuan pemerintah pusat, sebenarnya tidak ada istilah PPPK Paruh Waktu. Tidak ada di Undang-Undang. Hanya mengistilahkan saja. Sebelum diangkat jadi penuh waktu, jadi paruh waktu,” ujar Anang usai mengikuti penyerahan SK bagi PPPK. Ia memaparkan, sebagaimana aturan yang berlaku, terkait batasan usia, yang terpenting pegawai tersebut belum berusia 58 tahun. Jika masih berusia di bawah itu, masih dapat diangkat menjadi PPPK. ”Sepanjang belum 58 tahun, masih bisa diangkat. Seperti tadi ada yang usia 56 tahun, berarti dua tahun berikutnya sudah pensiun,” imbuhnya. Diketahui, dari tiga ribuan yang bakal diangkat se...

Di Malam Menjelang Minggu

  Dini Hari 13 April 2020 Septiana menghitung bintang di langit malam itu. Sejauh yang berhasil dihitungnya sebelum hitungannya ambyar, ada 676 bintang. "Yang itu tadi udah belum ya?" katanya dalam hati. Ragu baris bintang yang telah dihitungnya. Malam itu malam minggu. Sudah sepuluh cerpen selesai dibacanya. Tugas kantor seluruhnya juga telah rampung. Jam di layar HP-nya menunjukkan pukul 23.34. Tapi ia belum mengantuk. Matanya masih 100 watt. Septiana lalu membuka tirai kamarnya, dan ia melihat langit yang berbintik-bintik cahaya. Sudah lama sekali ia tak menghitung bintang, batinnya. Ia lalu membuka jendela kamarnya dan menelusupkan tubuhnya. Tak lupa dia bawa selimut. Di genteng rumahnya itu, dia telentangkan tubuhnya. Wajahnya dihadapkannya ke langit. Gadis berambut sepundak itu mulai memejamkan mata sembari menghirup nafas panjang. Benar-benar panjang hingga dadanya mengembang. Seperti melepaskan beban di pundaknya. Melupakan tugas-tugas kantor setumpuk yang diga...