Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Di Malam Menjelang Minggu

  Dini Hari 13 April 2020 Septiana menghitung bintang di langit malam itu. Sejauh yang berhasil dihitungnya sebelum hitungannya ambyar, ada 676 bintang. "Yang itu tadi udah belum ya?" katanya dalam hati. Ragu baris bintang yang telah dihitungnya. Malam itu malam minggu. Sudah sepuluh cerpen selesai dibacanya. Tugas kantor seluruhnya juga telah rampung. Jam di layar HP-nya menunjukkan pukul 23.34. Tapi ia belum mengantuk. Matanya masih 100 watt. Septiana lalu membuka tirai kamarnya, dan ia melihat langit yang berbintik-bintik cahaya. Sudah lama sekali ia tak menghitung bintang, batinnya. Ia lalu membuka jendela kamarnya dan menelusupkan tubuhnya. Tak lupa dia bawa selimut. Di genteng rumahnya itu, dia telentangkan tubuhnya. Wajahnya dihadapkannya ke langit. Gadis berambut sepundak itu mulai memejamkan mata sembari menghirup nafas panjang. Benar-benar panjang hingga dadanya mengembang. Seperti melepaskan beban di pundaknya. Melupakan tugas-tugas kantor setumpuk yang diga...

Seorang Bocah yang Datang di Pagi Hari

Ada bocah pada suatu pagi, datang, begini, katanya, sebentar lagi akan kiamat. Sebentar lagi dunia akan berakhir. Sudah tak ada lagi pengampunan. Tak ada lagi pintu maaf bagi siapapun hamba. Tuhan sudah menutup pintu. Ibadah sudah tak mampu lagi mengelap dosa-dosa. Karena bingung, bapak-bapak yang mendengar ini langsung melapor kepada Pak RT. Pak RT melapor pada kiyai setempat. Kiyai bingung. Lalu menginterogasi bocah yang mengaku dari bulan ini. “Kamu bener datang dari bulan?”  “Saya hanya tahu kalau kiamat akan datang sebentar lagi.” “Dari mana kamu tahu?” “Dari bulan.” “Apa buktinya?” “Banyak.” “Coba sebutkan.” “Bapak lebih tahu dari saya.” Pak Kyai mulai kesal. Berhenti bertanya. Ia menyeruput kopi untuk menenangkan pikiran. Berpikir-pikir lagi. Bagaimana mungkin ada bocah mengaku-ngaku dari bulan. Mengatakan kalau kiamat bakal terjadi sebentar lagi. Mengakui sudah banyak tanda-tanda kiamat. Dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat ke-21 dikatakan bahwa tanda...

Ibu Tua

Ibu Tua meringkuk di kamarnya. Sendirian. Usai Menik menonton televisi di ruang tengah, tak ada lagi suara yang mencairkan rumah itu. Dan Ibu Tua itu, tentu tahu Menik esok harus pergi ke sekolah pagi-pagi. Tak mungkin memintanya menemani dirinya hingga tertidur. Dan begitulah, Ibu Tua itu lebih sering merasa sendiri setelah ditinggal suami yang dipanggil Illahi dan anak-anaknya yang satu-persatu bergiliran meninggalkan rumah itu. Menik, putri bungsu dari lima bersaudara lebih sering berada di luaran. Pagi, bangun pukul lima, membantunya menyapu dan menyiapkan sarapan, lalu mandi dan lantas meninggalkannya sendirian di rumah. Sepi. Sepi. Selalu hanya sepi yang setia menemani Ibu Tua. Kini, Ibu Tua sedang melamun di jendela. Dulu, ia ingat sekali, di situ ia pernah mendongeng untuk anak-anaknya. Betapa Ibu Tua dengan muka cerah sumringah menjadi pendongeng setia di rumah hanya agar anak-anaknya merasa betah tinggal bersamanya. Ibu Tua bahagia sekali melihat anak-anaknya antusia...

“Kata” Papa

Pada suatu kalimat terpenggallah kata yang mengganggumu di malam hari. Entah membuat kau terpesona atau bukan, yang jelas kau mengatakannya: aku tak bisa tidur gara-gara kata itu. Di depannya, ada bayangan. Bayangan tentang citanya, cintanya dan yang terakhir adalah kata nya. Kata yang mengganggunya sejak ia memelototi buku yang tergeletak di meja tamu. Seumpama dia sedang membayangkan bertamasya di bali selama seminggu , maka satu minggu itu akan dipotong tiga hari hanya untuk memikirkan kata itu. Dalam benaknya, ada satu. Ia yakin. Ada sesuatu yang satu.  Dalam hatinya, atau entah di mana. Satu juga adalah kata itu. Menyelinap di mimpi malamnya, bepergian waktu paginya dan ikut pulang waktu sorenya. Tak ada lagi yang bisa diucapkannya bahkan dilakukannya. Ia hanya terdiam. Atau lebih dari itu, ia makhluk terpuruk. Begitu hatinya bergumam. Satu pagi yang sumpek, menambah pula beban sumpek yang harus ia derita sekarang. Pikirannya hilang. Lepas. Dirinya redup. Seredup-redu...

Siti Istikomah

Begitulah, Siti Istikomah sesuai dengan namanya, lurus, lurus dan lurus. Konsisten dengan apa yang dijalani. Dengan keadaan sesulit apapun. Hatinya tetap konsisten mengharap ridho-Nya. Walau cobaan berkali-kali menghampiri, ia dapat menaklukannya juga. Karena ia memang selalu yakin, bahwa barang siapa yang menegakkan agama Allah, hidupnya akan bahagia. Dan sampai sekarang ia hidup, ia selalu membuktikan kalimat itu, dan tak pernah meleset sedikitpun. Seperti ketika ibunya sakit sesakit-sakitnya, hingga sepertinya ibunya tak pernah merasakan sakit yang sepeti itu. Siti Istikomah dengan setia menemani ibunya tanpa sedikitpun ada rasa keluhan keluar dari mulutnya. Bahkan dari hatinya, ia senantiasa tulus mengaharap ridho dari Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha Kuasa, Yang Maha Adil bagi makhuk-makhluk-Nya. Siti Istikomah menyuapi ibunya, memapah ke kamar mandi, mewudhuni, dan ia senantiasa sabar serta selalu mengingat bahwa barang siapa yang sabar, Allah selalu bersamanya. Dari semua...