Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Di Grobogan, Wamenkes Tak Mau Doorstop dengan Wartawan

Gambar
Grobogan - Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus enggan melayani wawancara cegat alias doorstop dengan wartawan saat menyambangi Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Rabu (22/4/2026). Wamenkes tiba di Balai Desa Ketitang, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan pada Rabu siang sekitar pukul 12.45 WIB. Setelah beberapa saat di ruang transit, Wamenkes dan rombongan lalu meninjau pelaksanaan cek kesehatan gratis (CKG). Wamenkes meninjau CKG antara lain didampingi Wakil Bupati Grobogan Sugeng Prasetyo, Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto, serta Kepala Dinas Kesehatan Djatmiko. Para wartawan yang hadir pun mendokumentasikan saat Wamenkes dan rombongan menyambangi petugas CKG. Wamenkes tampak bercengkrama dengan para petugas. Setelah dirasa cukup mendokumentasikan kegiatan itu, para wartawan menunggu di bagian depan balai desa untuk doorstop dengan Wamenkes. Namun, Wamenkes dan rombongan justru keluar lewat pintu samping dan kemudian menuju ke ruang belakang balai desa tempat alat X-ray. Wartaw...

Mas Habib dan Maiyah

Gambar
Pada sekitar 2014, saya sebagai komting lupa mengirim SMS (belum marak WA) padanya bahwa sebuah mata kuliah diganti hari.  Blio tentu tidak tahu, tidak berangkat dan membuat jatah absennya berkurang. Blio pun protes tipis-tipis. Sebagai bentuk permintaan maaf, saya main ke rumahnya di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang beberapa waktu setelahnya. Saya lupa bagaimana detailnya tapi pada akhirnya kami semakin akrab karena Maiyah. Pada Februari 2016, kami motoran dari Semarang ke Alun-Alun Purwodadi menerjang hujan demi Maiyahan.  Waktu itu temanya Meretas Budaya Korupsi. Kami tidur di masjid kompleks Alun2 itu, Baitul Makmur. Sialnya, sandal saya hilang dan pada paginya harus pulang nyeker. Selain di Purwodadi itu, kami juga pernah ngluruk Maiyahan ke Magelang dan Solo. Entah ke mana lagi. Saya lulus, namun kabar kurang enaknya blio gak bersedia menyelesaikan studinya di detik-detik akhir semester.  Kami bertemu lagi pada 2021 saat saya nikah. Blio datang bersama istrinya d...

Mengapa Kita Cemas?

  Cemas, orang-orang selalu tampak cemas karena masa depan sepersekian detik setelah kita bernapas hanya ada dalam catatan langit. Orang-orang cemas, takut ketidakpastian masa depan, lalu memilih berlindung di bawah payung agama yang teduh. Sebagian orang mengatakan agama adalah keniscayaan. Lalu, ada berapa banyak orang yang justru lebih bahagia tanpa agama? Dendra berpikiran, agama hanya datang dari langit. Manusia tidak dapat menciptakan agama, karena manusia takkan mampu menyibak cahaya yang amat terang. Manusia tak bisa menyalalan lilin tanpa korek api. Manusia mesti mendapat anugrah untuk dipilih menjadi pemilik korek api yang jatuh dari langit. Dendra tentu tak berani menyalahkan orang-orang. Dia selalu mendorong orang-orang untuk berpikir: di kelas-kelasnya, status sosmednya, dan setiap bertemu dengan manusia apa pun bentuk kepalanya. Kecemasan mendorong orang-orang untuk berbuat sesuatu. Mereka sebenarnya tak benar-benar tahu bahwa apa yang mereka lakukan hanya ...