Postingan

Menampilkan postingan dengan label Budaya

PPPK Paruh Waktu

Grobogan – Bupati Grobogan, Jawa Tengah, Setyo Hadi baru saja menyerahkan SK pengangkatan bagi 789 PPPK di Gedung Dewi Sri Purwodadi, Selasa (9/9/2025). Selanjutnya, Pemkab Grobogan juga bakal mengangkat sekitar tiga ribu pegawai dalam skema PPPK Paruh Waktu. Sekda Grobogan Anang  Armunanto menyatakan sebenarnya tidak ada PPPK Paruh Waktu. ”Masih ada PR lagi, sesuai dengan ketentuan pemerintah pusat, sebenarnya tidak ada istilah PPPK Paruh Waktu. Tidak ada di Undang-Undang. Hanya mengistilahkan saja. Sebelum diangkat jadi penuh waktu, jadi paruh waktu,” ujar Anang usai mengikuti penyerahan SK bagi PPPK. Ia memaparkan, sebagaimana aturan yang berlaku, terkait batasan usia, yang terpenting pegawai tersebut belum berusia 58 tahun. Jika masih berusia di bawah itu, masih dapat diangkat menjadi PPPK. ”Sepanjang belum 58 tahun, masih bisa diangkat. Seperti tadi ada yang usia 56 tahun, berarti dua tahun berikutnya sudah pensiun,” imbuhnya. Diketahui, dari tiga ribuan yang bakal diangkat se...

Kompak, Warga dan Santri Grobogan Bersih-Bersih Masjid-Ponpes Jelang Ramadan

Gambar
  Warga lingkungan Jetis, Purwodadi, Grobogan membersihkan masjid jelang Ramadan 1444 H. Grobogan – Para santri Ponpes Barokatul Iman dan warga kampung Jetis, di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, kompak membersihkan masjid dan ponpes jelang Ramadan, Minggu (19/3/2023). Diharapkan, dengan kegiatan bersih-bersih ini, umat muslim nantinya lebih nyaman saat beribadah. Pengasuh Ponpes Barokatul Iman, Gus Ali mengatakan, kegiatan menyambut Ramadan dengan kerja bakti yang melibatkan warga dan santri ini merupakan yang pertama kalinya. Biasanya, bersih-bersih hanya di lingkungan masjid saja. “Biasanya hanya sekitar masjid saja, tapi kali ini di lingkungan pondok juga ikut dibersihka bersama warga,” katanya. Kegiatan tersebut meliputi pengepelan lantai, pencucian karpet, hingga perbaikan pintu. Gus Ali menambahkan, dengan kegiatan tersebut, diharapkan mampu melatih warga agar hatinya lebih bersih dalam rangka menyambut bulan Ramadan. “Ini melatih jiwa agar bersih...

Membedah Suluk Pepali Ki Ageng Selo

Gambar
NGURI-URI BUDAYA: Suyadi alias Pak Raden memaparkan pepali Ki Ageng Selo di Masjid Ki Ageng Selo, Desa Selo, Tawangharjo, Grobogan, Kamis (6/2) malam. GROBOGAN -  Suluk Pepali Ki Ageng Selo diyakini masih relavan diterapkan di kehidupan modern saat ini. Kendati kelahiran karya agung tersebut, mengacu pada kehidupan Ki Ageng Selo, yakni sekitar abad ke-16, namun ajaran pokok dalam pepali tersebut bisa menyesuaikan diri. Hal itulah yang menjadi bahasan Majelis Selapanan Lesbumi NU Grobogan di masjid kompleks makam Ki Ageng Selo, di Desa Selo, Tanggungharjo, Kamis (6/2/2020) malam. Sebagai pembedah, yakni Suyadi alias Pak Raden yang juga pemimpin Padepokan Adem Ayem, dan seorang penulis Grobogan Jumadi dan Kiai Rohib. Pak Raden memaparkan Suluk Pepali Ki Ageng Selo merupakan tuntunan hidup dari lahir sampai mati. Baik itu sebagai rakyat, pemimpin, atau apa pun juga. Pepali tersebut pun menunjukkan kekayaan khazanah budaya nenek moyang masyarakat Jawa, khususnya Grobogan. ”Sete...

Begini Akhirnya Ustadz Umar Hamdan yang Diduga Hina Gus Mus, Sesepuh NU

Gambar
Ustadz Umar Hamdan (kanan) berfoto bersama Gus Mus (tengah), Jumat (31/5/2019) FOTO-FOTO: MATA AIR RADIO REMBANG - Ustadz Umar Hamdan mendadak viral setelah memposting status yang berisi komentar terhadap doa yang dipanjatkan K.H. Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus. Postingan yang kini sudah dihapus itu viral lantaran diduga mendiskreditkan Gus Mus yang merupakan sesepuh NU tersebut. Pada Jumat (31/05/2019) sore, menyusul tanggapan negatif dari banyak netizen, Ustadz asal Pamekasan Madura itu datang langsung ke Rembang dan sowan ke kediaman Gus Mus, di kompleks Ponpes Raudlatut Thalibin, Leteh. Kedatangannya sudah tentu untuk meminta maaf kepada Kiai kharismatik itu. Dikutip dari mataairradio.com, sebelum bersua Gus Mus, Umar sempat ditemui oleh Komandan Banser Rembang Zaenal Arifin dan beberapa santri di lantai dua bangunan pesantren putra. Dalam kesempatan itu, Kepala Satuan Koordinator Cabang (Kasatkorcab) Banser Rembang Zaenal Arifin sempat berta...

Peradaban Tanpa Adab

Gambar
by Ahmad Mbarik Ciri sederhana yang menandakan seseorang, kelompok, golongan atau bahkan masyarakat tersebut memiliki sejarah peradaban adalah tertanamnya budaya sopan-santun yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah unggah-ungguh. Ahmad Mbarik foto: facebook Beberapa waktu yang lalu, ada remaja yang mengkritik sikap duduk ustadz muda bersama bupati. Karena bupati duduk di kursi sedangkan ustadz tersebut duduk iftirosy (duduk di antara dua sujud dalam sholat). Remaja itu menganggap sikap tersebut berlebihan. Seharusnya mereka duduk sejajar. Jika di atas ya di atas semua, karena bupati bukan Tuhan yang harus dihormati berlebihan. "Sekarang bukan zaman kerajaan, bro...duduk sama rendah berdiri sama tinggi, kesetaraan kita di mata hukum sama apalagi di mata Tuhan," begitu cuitan dia. Remaja itu secara tak langsung menunjukkan karakter dirinya bahwa dia tak paham sejarah. Masyarakat Jawa memiliki naluri menghormati orang tua layaknya raja. Naluri ini terbentuk...

Negosiasi Pengembangan Makam RA Kartini di Mantingan Masih Alot

Gambar
DOK. KHOLID HAZMI BERENCANA DIKEMBANGKAN: Seorang peziarah menabur bunga di makam RA Kartini, belum lama ini. REMBANG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang mewacanakan akan menata lokasi sekitar makam RA Kartini yang berada di Desa Mantingan, Kecamatan Bulu. Namun, rencana tersebut memang tak luput dari kendala. Salah satunya adalah belum adanya persetujuan mengenai nilai kerja sama dengan keluarga ahli waris RA Kartini. Bupati Rembang Abdul Hafidz menyebutkan, hak legal secara hukum masih belum didapatkan pemkab Rembang untuk melakukan pengembangan. Hal itu karena makam RA Kartini merupakan milik dan wewenang keluarga RA Kartini yang merupakan ahli waris. ”Kami ingin meningkatkan infrastrukturnya. Kami sudah sempat bernegosiasi dengan keluarga RA Kartini, tapi memang belum ada kata sepakat,” paparnya. Bupati menambahkan, area seluas 5 hektar kawasan makam RA Kartini sampai saat ini memang merupakan wewenang ahli waris. Negosiasipun terus dilakukan agar rencana penin...