Postingan

Beberapa Alasan Orang Betah Menjomblo

Jomblo, menurut mereka yang jomblo, bukan berarti tidak laku. Sebagian mereka mengaku belum menemukan yang pas. Berikut adalah beberapa alasan mengapa orang-orang betah menjomblo. 1.       1.  Dilarang Orangtua Alasan klasik untuk para penganut ajaran sama’na waatho’na pada orang tua adalah dengan menjadikan alasan ini sebagai senjata andalan bila ditanya teman2 dan sahabat. Biasanya mereka beralasan begini: orangtua yang melahirkan kita, yang membesarkan kita, yang mendidik kita, jadi kita harus dan wajib patuh padanya. Kalau nggak boleh ya nggak boleh. Titik. Mereka pada umumnya memang dilarang para orangtua yang ketat pada anak-anaknya. Biasanya baru disaat usia yang sangat matang, mereka diijinkan untuk menjalin percintaan, dengan harapan bisa langsung dibawa ke pelaminan. 2.       2.  Susah Move On Barangkali ketika bersama pasangan yang lama terlalu banyak hal yang berkesan, sehingga terlalu susah untuk melupakannya. Karena masih ...

Tentang Transgender: Menjadi Perempuan, dan Sepenuhnya Laki-laki: Bagaimana Mbah Modin Nanti?

Alam ini diciptakan berpasang-pasangan, begitu semua orang mengumbar percakapan sehari-hari. Ada siang ada malam, ada pagi ada sore, baik buruk, sial mujur, bulan matahari, langit bumi, dan yang paling banyak disebut adalah ada laki-laki dan ada perempuan. Belakangan ini, setidaknya sudah berjalan dalam hitungan bulan, sebagian yang membaca tulisan ini pasti tahu, ada seorang yang dengan keberanian yang matang, memutuskan keputusan sangat besar dan tentu saja mengandung banyak resiko: menjadi seorang trans. Mungkin agak disamarkan, (saya sengaja tidak minta izin kepada yang bersangkutan, tapi kalau memang tidak berkenan, saya akan segera menghapus ini) dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak patut. Dalam banyak literatur disebutkan bahwa orang-orang trans adalah orang-orang yang merasa memiliki jiwa yang tidak sesuai dengan ciri-ciri sebagaimana bentuk fisiknya. Mereka memiliki bentuk fisik yang lazim disebut laki-laki, namun tingkahnya seperti perempuan, atau cenderu...

Catatan Perjalanan Menembus Gusmus

Hari itu Jum’at. Hari keenam puasa. Sesuai rencana beberapa hari sebelumnya, saya dan Si Bang Zae, mas2e ketua bem kae, akan menembus kota Rembang, untuk menemui-sowan- Gusmus. Kami berangkat sekitar pukul 14.15 WIB dari PKM FBS Unnes. Sebelum berangkat, kebetulan seorang dosen lewat-dosen yang mengharuskan kami untuk menjelajah Pantura untuk mencapai seorang kiyai yang juga sastrawan dan budayawan itu: Pak Burhanuddin. Perlu ditekankan di sini bahwa, kami sowan ke Gusmus adalah untuk memenuhi tugas Antropologi Sastra. Tugasnya adalah: wawancara tentang latar belakang kepenulisan seorang sastrawan. Kebetulan kami kebagian-yang menurut kami paling susah ditemui-GusMus. Anehnya, kami tidak menjelaskan pada pak dosen itu kalau kami akan berangkat ke-suatu kota yang menurut saya, jauh-bernama Rembang, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliahnya. Pak dosen itu hanya senyum sedikit dan menyapa si ketua BEM: Wes buko din? Jawab ketua bem kita: Ngko, Asyar Pak. Kami bertiga senyam-senyum pad...

Obrolan Tukang Becak

Sembari menunggu salah seorang peserta IMABSII yang menunda tiket keretanya, saya iseng-iseng tanya-tanya sama bapak-bapak si tukang becak. Tempat dan waktu kejadian perkaranya adalah di sekitaran stasiun Poncol, sekitar pukul  11.00 WIB, Kamis, 29 Mei 2014. Pertama-tama saya basa-basi tanya-tanya tentang bagaimana penghasilan jadi tukang becak. Paling banyak berapa, paling sedikit berapa. Menurut penuturan bapak-bapak yang belakangan saya tahu namanya Heru ini, paling sedikit ya “blong”. Alias nol rupiah. Nah, kalau lagi rame, bisa ratusan ribu sehari. Akunya. Setelah beberapa pertanyaan iseng-iseng itu, saya lebih iseng-iseng lagi tanya-tanya tentang ekonomi keluarganya. Ternyata Bapak 2 anak ini, kurang berkenan kalau disebut berkecukupan. Ia justru menjabarkan semacam ini: “Kebutuhan orang kan selalu ada. Ya ada-ada saja kebutuhannya.” Setelah diam sebentar, saya lebih iseng-iseng lagi, tanya tentang siapa calon presiden yang akan dipilihnya, antara Jokowi atau Prabowo...

“Dosen saya wartawan, Pak!”

Ini sebenarnya kelanjutan dari kisah “Obrolan Tukang Becak” di catatan sebelumnya. Begini, pulang dari Poncol, karena akan menuju Unnes Sekaran, saya tentu saja melewati jalan Imam Bonjol, kawasan Tugu Muda, jalan sebelah Lawang Sewu itu. Seperti yang Anda ketahui, kawasan Tugu Muda dikelilingi oleh lampu merah. Nah, karena lampu tinggal beberapa detik lagi akan berwarna hijau, dan di sebelah kiri agak lowong, saya memilih berhenti di lajur kiri. Ketika lampu hijau, saya nyelonong saja dan karena saya akan ke Unnes, maka saya tentu saja memilih arah Banyumanik, Solo-Jogja. Sampai di kawasan penjual bunga-bunga, seorang polisi bermotor menghentikan saya. Menggiring saya ke kiri. Saya ragu-ragu, karena merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tidak melanggar lalu-lintas. “Selamat siang, bisa lihat surat-suratnya?” tanya polisi berbadan gempal itu. Saya yang terus terang berdompet kosong, hanya ada seribu rupiah, karena uang 5000 yang saya ambil di sekretarian panitia IMABSII su...

Catatan Kecil tentang Ninuk Endah “Pubdekdok” (D.)S.L.(R)

Ada banyak ilmu tentang hidup. Ilmu tentang kehidupan juga tidak kalah banyaknya. Tapi ilmu tentang pubdekdok? Saya belum pernah menemui bukunya. Namun jangan khawatir, tanpa belajar dengan buku, kita bisa belajar tentang pubdekdok dengan saudara berat kita: Ninuk Endaah (D)S.L.(R) Bila ada yang bertanya tentang dia, maka saya akan dengan lantang menjawab: “Dia itu yang pubdekdok bangeeeet...gitu Men” Sejumlah penghargaan sudah disiapkan untuknya, mulai dari jempol  Rektor Unnes, UNDIP, Unisulla, IAIN Walisongo dan juga jempol master dekdok REM FM, Mas Toni “Lutharino”, kalau tidak salah. Penghargaan paling tinggi adalah jempol presiden negeri Paman Sam, Barack Obama untuk saudara “pubdekdok” kita, Ninuk. Yang menjadi persoalan sekarang adalah, mengapa dia bisa disebut “pubdekdok banget”? Awalnya adalah GEMA. Di GEMA (Gebyar Mahasiswa) BSI, dia didaulat menjadi koordinator Pubdekdok, yang sebenarnya tiada lain tiada bukan alasan utamanya adalah karena dia pemegang akun fb,...

Ditinggal Orangtua dan Meninggalkan Orangtua

Memiliki orangtua, kurang lebih seperti memiliki pegangan hidup. Dalam menyadari eksistensi diri sebagai manusia, kita tak bisa lepas dari yang mendahului kita, bahwa selalu ada yang lebih mengerti, lebih tahu, paham, pengalaman, karena (minimal) lebih lama menjalani hidup sebagai manusia. Begini, dalam sebuah organisasi, kita selalu mengenal, selain peserta penjalan (ini kata benar atau salah ya?) roda organisasi, selalu ada yang namanya dosen pendamping. Nah, peran dosen pendamping untuk organisasi yang sudah mapan biasanya adalah (hanya) alternatif tempat konsultasi atau kurang lebihnya tempat curhat, berkaitan dengan organisasi tersebut. Di HIMA BSI misalnya, sebuah organisasi yang sudah mapan, sudah lama terbentuk, sudah tua, berpengalaman, dan memiliki regenerasi yang konsisten, dosen pendamping, barangkali hanya menangani masalah-masalah yang rumit. Misalnya ketika organisasi yang sudah bisa berkendara motor ini ditilang polisi, atau mengalami kecelakaan yang fatal. Ia tidak...