Di Malam Menjelang Minggu
Dini Hari 13 April 2020
Septiana menghitung bintang di langit malam itu. Sejauh yang berhasil dihitungnya sebelum hitungannya ambyar, ada 676 bintang.
"Yang itu tadi udah belum ya?" katanya dalam hati. Ragu baris bintang yang telah dihitungnya.
Malam itu malam minggu. Sudah sepuluh cerpen selesai dibacanya. Tugas kantor seluruhnya juga telah rampung. Jam di layar HP-nya menunjukkan pukul 23.34. Tapi ia belum mengantuk. Matanya masih 100 watt.
Septiana lalu membuka tirai kamarnya, dan ia melihat langit yang berbintik-bintik cahaya. Sudah lama sekali ia tak menghitung bintang, batinnya.
Ia lalu membuka jendela kamarnya dan menelusupkan tubuhnya. Tak lupa dia bawa selimut. Di genteng rumahnya itu, dia telentangkan tubuhnya. Wajahnya dihadapkannya ke langit.
Gadis berambut sepundak itu mulai memejamkan mata sembari menghirup nafas panjang. Benar-benar panjang hingga dadanya mengembang. Seperti melepaskan beban di pundaknya. Melupakan tugas-tugas kantor setumpuk yang digarapnya sejak pagi. Melupakan alur cerita yang baru saja dibacanya. Meluruhkan segala masalah hidup.
"Fyuuhhh....."
Septiana melepaskan nafasnya. Benar-benar lega. Seakan mendung yang menguntitnya sepanjang pekan ini sirna seketika. Berganti dengan langit yang bersih dan menampakkan jutaan gemintang.
Gadis hampir seperempat abad itu pun mulai menghitung. Layaknya menghitung masih berapa hari jatahnya hidup di dunia ini. Oh, tetapi ia mencoba berpikir lebih positif: masih berapa jenis kebahagiaan yang belum pernah dia alami.
"Sepertinya memang terlampau banyak juga," katanya sembari melempar senyum ke udara yang mulai dingin.
Pikirannya tiba-tiba terlempar ke seorang sosok. Sosok yang dalam beberapa pekan ini mengaku naksir padanya.
"Aku benar-benar tidak yakin dia suka beneran. Pasti banyak juga yang digombalin sebelum aku," si jahat berbisik.
"Belum tentu. Wartawan itu kan punya harga diri. Mana mungkin semua cewek yang pernah ditulis digombalin," kata si baik.
"Lha tampangnya aja begitu," timpal si jahat lagi.
"Tampangnya? Lihat di IG-nya dong. Ada salaman sama kiyai, poto sama kiyai besar. Tidak ada yang hura-hura."
"Halah pencitraan. Lha ada foto sama cewek gitu. Pasti ganjen."
"Itu kan narasumber. Mereka juga sudah punya pacar sendiri-sendiri. Cuma iseng-iseng. Lagian cewek yang diajak poto cantik-cantik banget. Ngartis pula. Sosialita. Mana mungkin mau sama wartawan yang gajinya cuma cukup buat makan sebulan dan beli baju di luwes tiga stel. Mikir..."
Hahaha.
Septiana tersenyum sendiri mendengar pertengkaran hatinya. Dia tetap ragu. Wartawan yang sungguh selengekan. Tidak jelas, sikapnya. Kayak kurang berwibawa. Tidak jantan ah.
Kenapa dia tidak menyatakan dengan romantis kalau benar-benar cinta? Gumamnya.
Eh, tapi banyak kisah justru kalau dia pandai bersikap di depan perempuan berarti dia playboy. Malahan kalau dia selengekan itu tulus dan setia. Kan dia juga tidak terbiasa punya sikap bagus ke semua perempuan.
Ah, mana ada wartawan yang romantis. Pikirannya kan di berita, berita dan berita. Mana sempat mikirin agenda untuk romantisan-romantisan.
Tapi kemudian Septiana tersadar: gimana mau diromantisin kalau aku nggak pernah mau diajak makan di luar?
Dia tersenyum lagi.
Kayaknya lucu juga kalau pacaran sama wartawan. Apalagi kalau benar-benar nikah. Malahan seru.
Wartawan kan otaknya lumayan intelek. Wawasannya lumayan luas. Bisa ditanyai banyak hal. Pasti nggak mungkin selingkuh. Kecil lah kemungkinannya. Tapi hidupnya pas-pasan.
Si gadis kali ini tertawa.
Kayaknya ya tidak miskin-miskin amatlah. Yang penting toh cukup. Bisa makan, punya rumah sederhana dan sesekali piknik. Justru kalau kaya, punya banyak duit, potensi selingkuh besar, malah mau nikah lagi. Hahaha.
"Tapi apa benar dia sayang aku?"
Septiana memilih menghitung bintang lagi. Dia melihat bintang yang paling terang. Bintang yang konon jadi acuan para nelayan menentukan arah mata angin. Bintang yang konon tepat berada di kubah langit versi penganut bumi datar.
"Tuhan, beri aku petunjuk. Apakah si wartawan ini benar-benar sayang aku?"
Tiba-tiba handphonnya bunyi. Septiana memencet tombol kunci. Ada WA masuk.
"Selamat tidur, Siying..."
Dari si wartawan slengekan. Septiana tertawa.
Komentar
Posting Komentar