Mengapa Kita Cemas?

 

Cemas, orang-orang selalu tampak cemas karena masa depan sepersekian detik setelah kita bernapas hanya ada dalam catatan langit. Orang-orang cemas, takut ketidakpastian masa depan, lalu memilih berlindung di bawah payung agama yang teduh.

Sebagian orang mengatakan agama adalah keniscayaan. Lalu, ada berapa banyak orang yang justru lebih bahagia tanpa agama?

Dendra berpikiran, agama hanya datang dari langit. Manusia tidak dapat menciptakan agama, karena manusia takkan mampu menyibak cahaya yang amat terang.

Manusia tak bisa menyalalan lilin tanpa korek api. Manusia mesti mendapat anugrah untuk dipilih menjadi pemilik korek api yang jatuh dari langit.

Dendra tentu tak berani menyalahkan orang-orang. Dia selalu mendorong orang-orang untuk berpikir: di kelas-kelasnya, status sosmednya, dan setiap bertemu dengan manusia apa pun bentuk kepalanya.
Kecemasan mendorong orang-orang untuk berbuat sesuatu. Mereka sebenarnya tak benar-benar tahu bahwa apa yang mereka lakukan hanya menambah kecemasan baru. Lihat saja, ada berapa banyak orang beragama yang benar-benar bahagia.

"Jadi kau sekarang aktivis sekuler?"

"Sekuler itu keniscayaan. Banyak hal yang tak bisa dijawab agama."

Jawaban itu agak mengagetkan Ghanim. Dia tahu, temannya adalah golongan pesantren lurus.

Dendra hanya ingin agama boleh dikritik, meski kini dia belum tahu caranya. Menurutnya, orang-orang modern selalu ingin mengkritik agama. Bukan dalam rangka mengajak umat menjadi atheis, namun agar tak ada ruang kebencian di antara sesama.

Sayangnya, dosen cantik berpinggul padat sudah masuk ruangan. Diskusi pun berakhir.
Dosen ini seperti mendengar apa yang mereka bicarakan dan dia bertanya begini: mengapa semakin banyak orang atheis? apakah agama gagal memberikan penerangan?

Sebagian laki-laki di ruangan itu hanya fokus pada bentuk tengkorak si dosen dan susunan indra di wajahnya. Sementara para perempuan lebih tertarik dengan gosip: benarkah dosen cantik ini simpanan rektor?

Dendra mengangkat tangan: kita hidup di dunia yang serba tergantung sains, agama tidak banyak menyelesaikan masalah dan justru kadang-atau malah sering-menambah masalah.

Mengapa negara kita dicatat sebagai negara paling murah senyum? Mengapa kita bisa hidup berdampingan dengan banyak perbedaan? Mengapa orang-orang miskin tidak menjarah harta orang kaya?

Dalam hati Dendra: wahai orang kaya, berterima kasihlah pada agama. Orang miskin akan selamanya bahagia karena mereka yakin tanggungan mereka di akhirat lebih sedikit. Tetapi yang keluar di mulutnya sudah tentu lain: mengapa semua orang miskin ingin kaya?

Nah, apakah akhirnya mereka kaya? Berapa banyak yang sudah berusaha keras tapi tak kunjung kaya? Bacalah takdir, Nak...

Kelas kemudian kembali ke alam nyata.

Satu jam kemudian, Ghanim protes ke Dendra: kamu ini seakan tahu semua hal.

"Ha?"

"Dharmasraya, Bungo, Tebo, Kaur, Lebong, Mukomuko, Seluma, itu semua nama-nama apa?"

"Apa? Acara adat? Makanan?"

"Bodoh. Kamu tahu nama-nama ini: Dedy Umar Hamdun, Herman Hendrawan, Hendra Hambali, Ismail, Yusuf, Petrus Bima Anugrah, Sony, Suyat, Ucok Munandar Siahaan, Yadin Muhidin, dan Yani Afri? Kamu tahu?"

"Teman-teman SD-mu dulu?"

"Kamu tahu Widji Thukul kan?"

"Jangan bilang mereka bernasib sama dengan si penyair..."

"Bodoh... Tapi ya gimana, nama-nama kabupaten saja tidak paham apalagi korban 1998..."


###


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reaktivasi Stasiun KAI di Rembang Masuk RPJMD, Pakai Jalur Lama

Ghanim Saka Nareswara

Cara Sempakan Yang Baik dan Benar