Ghanim Saka Nareswara

 




Ya, itulah nama anakku yg lahir pada Mei 2022 lalu. Kini usianya sudah tiga tahun lebih. Sudah bisa memanggil ayahnya dan mamanya, dan banyak hal lain.
Memang, aku merasa lebih cocok dipanggil ayah dan ternyata ibunya ingin dipanggil mama saja. Jadi bukan ayah-ibu atau papa-mama, tapi ayah-mama.

Aku memilih nama Ghanim setelah googling mencari nama anak-anak Palestina. Terus terang, itu bukan nama yang kusiapkan sejak awal. Itu nama yang bahkan baru kupilih beberapa hari usai sang bocah itu lahir.

Nareswara kupilih karena aku ingin perpaduan Arab-Jawa. Kupikir artinya bagus, kupakai saja. Awalnya Nareswara di depan, tapi mamanya ingin diletakkan di belakang.

Tambahan Saka di tengah tidak diniatkan memiliki filosofi tertentu. Itu hanya kependekan Saiful-Rika. Mamanya yang mengusulkan dan aku setuju.

Aku sangat bersyukur punya Ghanim. Walau ia sering tak mau kuajak karena kerap kularang-larang melakukan sesuatu, namun kelucuannya membuatku sangat sayang padanya.

Saat aku bertengkar hebat dengan mamanya, kami selalu memperebutkannya. Ini mungkin berbeda dengan beberapa pasangan lain yang justru ingin tak dibebani anak jika berpisah. Tapi begitulah, Ghanim yang terus mempersatukan kami.

Sejujurnya, aku benar-benar tak tahu akan jadi apa dia nanti. Aku bingung mau membentuknya seperti apa. Dan pada akhirnya kupikir, sebagus apa pun kita mempersiapkannya, Tuhan juga yang akan kasih jalan.

Hanya saja, belakangan ini, aku ingin ia jadi dosen. Ya, dosen. Setidaknya jika ada yang bertanya ia ingin jadi apa, kami punya jawaban agak spesifik.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reaktivasi Stasiun KAI di Rembang Masuk RPJMD, Pakai Jalur Lama

Sambut Kirab Satu Negeri , Ini Harapan Bupati Hafidz